Waspadalah terhadap kedengkian atau hasad

Waspadalah terhadap kedengkian atau hasad, sebab sungguh ia adalah teman yang buruk. Kedengkian yang telah menghancurkan rumah iblis, yang menghancurkan dirinya, yang menjadikan dirinya sebagai salah satu penghuni neraka, dan yang telah menyebabkan dia di kutuk oleh tuhan yang maha kuasa serta oleh para malaikat, nabi-nabi dan semua mahluknya. 


Bagaimana orang yang bertakal sehat bisa memendam rasa dengki , padahal dia telah mendengar firman Allah swt :


“kami telah membagi-bagikan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia ini.” (QS 43:32)


“ataukah mereka dengki kepada manusia dikarenakan apa yang telah di limpahkan kepada Allah kepada mereka dari karunianya ? (QS 4:54)

Tentu dia juga telah mendengar ucapan nabi saw :

“kedengkian memakan pahala kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Wahai anak muda ! seperti yang di katakana oleh para ulama yang berilmu : “Demi Allah, sekali seorang telah di rasuki oleh kedengkian, niscaya dia akan melangkah jauh dengan membunuh sahabatnya.” Marilah kita berlindung kepada Allah yang maha kuasa dan maha agung dari orang-orang yang di rasuki rasa dengki, sebab dia selalu terlibat dalam perselisihan dengannya, tentang karyanya, tentang mahluk-mahluknya, dan tentang pemberian rezekinya.

Aku berbicara kepada kalian sebagai orang yang tidak tertarik pada apa yang kalian miliki di rumah-rumah kalian, pada barang-barang kalian, pada harta benda dan hadiah-hadiah kalian. Selama aku bersikap seperti ini, kalian akan memperoleh manfaat dari kata-kataku, insya Allah ta’ala. Selama si pembicara melihat kepada sorban-sorban kalian, jubah-jubah kalian, dan kantong-kantong kalian, kalian tidak akan memperolah manfaat dari apa yang di katakannya. Selama dia memandang asap kalian (yakni penampilan lahiriyah kalian) dan memendam harapan-harapan dari kalian dengan rakus, maka kalian tidak akan memperoleh manfaat dari apa yang di katakannya. Pembicaraan akan merupakan cangkang kosong tanpa isi di dalamnya, tulang tanpa daging yang melekat padanya, pil pahit tanpa sesuatu yang memaniskannya, suatu bentuk luar tanpa isi yang terkandung di dalamnya. Pembicaraan orang yang rakus dan berambisi tidaklah bebas dari kekacauan dan penyelubungan. Dia tidak mampu menyuguhkan kebenaran. Pembicaraannya hanyalah kalimat-kalimat tanpa kandungan isi. Orang yang berambisi rakus (tamak) adalah kosong seperti ambisi itu sendiri.

Wahai hamba-hamba Allah, kalian harus mengucapkan kebenaran, sebab hanya dengan itu kalian akan mendapatkan keberhasilan. Orang yang jujur (shadiq) akan selalu menepati kata-katanya seseorang yang jujur dalam mengukuhkan tauhid kepada Allah tidak akan tunduk kepada nafs-nya, diri rendahnya, dengan kata lain, setannya, dan mengatakan apa yang di suruh oleh setannya itu. Orang yang jujur tidak akan mendengarkan ocehan-ocehan yang tolol, yang tidak dapat menemukan jalan ke telinganya. Jika seseorang berkata benar ketika dia mengaku mencintai Allah swt dan rasulnya dan orang-orang saleh di antara hamba-hambanya, maka dia tidak akan berbicara seperti orang munafik yang menjijikkan dan tak berdaya. Orang yang jujur selalu sadar (tentang apa yang benar dan yang palsu), sementara seorang pendusta tidak mengetahui perbedaan tersebut. aspirasi seorang yang benar menjulang tinggi ke langit. Dia tidak di pengaruhi secara buruk oleh apapun yang di katakan oleh siapapun. Allah yang maha kuasa dan maha agung mengendalikan urusan-urusannya. Jika dia menghendakimu untuk suatu urusan, dia akan membuatmu siap untuk itu.


Sumber : peringatan dari sang syech agung : menangkis bisikan jahat

Subscribe to receive free email updates: