Pengertian Lalai dan Kisah Seseorang Tentang Kelalaian Dalam Beribadah

Pengertian lalaiSifat lalai menambah penyesalan dan menghilangkan kenikmatan, mengurangi jati diri kehambaan, menambah kedengkian. Serta menambah rasa kekecewaan.

Kisah ; ada seorang soleh melihat gurunya dalam mimpi. Ia bertanya pada gurunya: ‘penyesalan apa yang paling besar ?’. gurunya menjawab : ‘menyesal akibat lalai.’

Diriwayatkan, sebagian dari mereka ada yang melihat Dzunnun Al Mishri. Orang itu berkata ‘ bagaimana Allah memperlakukan kamu ?’ Al Mishri menjawab : ‘dia meletakkan aku di hadapannya, kemudian berfirman kepadaku ‘wahai orang yang terdakwa, orang pembohong, engkau mengaku cinta kepadaku, sementara engkau selalu lalai dari-ku. Engkau selalu lalai dan hatimu sangat pelupa, umurmu sudah hilang sementara dosamu tetap seperti semula.’
Imam Syafi'i
Zahri Riyadh
Kitab tersebut menerangkan, malaikat mau dengan nabi Ya’qub as. Hampir seperti saudara. Dan suatu saat malaikat mau mendatangi nabi Ya’qub as. Nabipun bertanya ‘ wahai malaikat maut, engkau datang menjenguk aku atau mau mencabut nyawaku ?’ malaikatpun menjawab ‘aku datang berkunjung.’ Nabi berkata ‘kalau begitu aku minta engkau mau mengabulkan hajatku.’ Malaikat menjawab ‘ maksudnya ?’ nabi berkata : ‘beritahukanlah kepadaku kalau kamu mau mencabut nyawaku.’ Malaikat berkata : ‘Ya, aku akan mengirim 2 atau 3 malaikat utusanku”. Dan suatu saat malaikat maut mendatangi nabi Ya’qub lagi. Nabi ya’qub pun bertanya seperti biasanya ‘engkau datang menjenguk aku atau mau mencabut nyawaku ?’. malaikat maut menjawab : ‘mencabut nyawamu’. Nabipun berkata : ‘bukankah dulu engkau pernah member tahuku akan mengirim 2 atau 3 malaikat utusan !’. malaikat maut membantah : ‘bukankah aku sudah melakukan! Rambutmu yang memutih, lemahnya tubuhmu, dan bungkuknya tubuhmu. Bukankah semuanya sebagai utusan pada seluruh anak cucu adam kalau menjelang ajalnya!’.

“Sudah lewat waktu dan hari. Padahal dosa masih di kerjakan, bahkan datang utusan kematian, namun hati masih saja lalai. Kenikmatanmu di dunia hanya tipuan belaka : bahkan kehidupanmu di dunia hanyalah semu yang tidak bisa di benarkan.”

Abul Ali Addaqooaqi ra berkata : ‘aku pernah memasuki rumah orang saleh yang sakit. Dia termasuk guru besar, dan banyak sekali orang yang berkunjung menjenguk sakitnya.’ Dia menangis dalam umurnya yang tinggal sedikit. Aku bertanya : “kenapa tuan menangis ? apa karena urusan duniawi!.” Dia menjawab : ‘Bukan, tapi karena tertundanya sholatku’. Aku bertanya : “bagaimana bisa terjadi, bukankah engkau orang yang rajin sholat!”. Ia berkata : “hari ini keadaanku tidak bertambah. Aku, tidak sujud, kecuali selalu lalai (tidak khusuk), begitu pula ketika aku mengangkat kepalaku. Dan aku menjelang matipun dalam keadaan lengah”.

Lalu ia meniup debu sambil melantunkan syair sebagai berikut :
“Aku berfikir tentang pertemuanku di hari kiamat kelak, serta menyentuhnya pipiku di kuburan. Seorang diri, padahal sebelumnya ia mulia dan luhur; semua itu diimpaskan dengan dosaku, sementara debu merupakan bantalku. Aku memikirkan betapa lamanya hisab, dan sangat hinanya diriku ketika di beri catatan amal, namun aku hanya punya harapan kepadamu wahai tuhanku yang menciptakan aku; hanya engkaulah tuhanku yang bisa mengampuni kesalahanku.”

Ada hadist bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : “Allah sudah menulis di tiangnya, ‘Arsy ‘aku mengabulkan orang yang taat kepadaku, mencintai orang yang mencintaiku, mengabulkan orang yang berdoa kepadaku, dan mengampuni orang yang meminta ampun kepadaku.
Bagi yang bisa berfikir, seharusnya taat kepada Allah, ikhlas dan ridho terhadap keputusannya, sabar akan cobaannya dan bersyukur atas semua nikmatnya. Allah swt berfirman :

“barang siapa yang tidak ridho dengan keputusanku, tidak sabar dengan cobaanku, tidak syukur atas nikmatku, juga tidak menerima pemberianku, maka hendaknya dia mencari tuhan selain aku. ”
Ada seorang lelaki berkata kepada Abu Yazid ra. “aku tidak merasakan sedikir\tpun nikmatnya taat.” Abu yazid menjawab “karena engkau menyembah ketaatan itu, bukan menyembah Allah. Maka sembahlah Allah sampai engkau merasakan nikmatnya taat.”

Kisah seorang yang tidak ingin lalai dalam sholatnya
Kisah, ada seorang lelaki shalat, dan sampai pada lafadz ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Dan yang bergerak dalam hatinya ialah mengabdi kepada Allah. Namun ada gerakan batin yang membantah. “engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi kepada makhluk”. Iapun bertobat dan menjauhkan diri dari manusia. Ia sholat lagi dan sampai pada ayat  “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Adapun yang membantah ‘engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi pada harta. Lalu semua hartanya di sedekahkan. Ia sholat lagi, juga sampai pada ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Ada bantahan lagi, “engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi pada pakaian”. Lantas semua pakaiannya di sedekahkan, hanya tinggal yang di pakai saja. Lalu ia sholat lagi, dan sampai pada ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Barulah ada panggilan, “engkau baru benar sesungguhnya engkau sudah mengabdi kepada Allah.”

Kisah seorang yang lalai dalam sholatnya
Dimana ada kisah seorang lelaki yang kehilangan beberapa barangnya (jawaaliq), ia lupa siapa yang mengambil. Ketika sholat ia ingat siapa yang mengambil, dan setelah salam, ia memerintah pelayannya untuk mengambil barang itu. Pelayan itu bertanya : “kapan kamu ingat tuan ?” jawan tuan : “ketika aku sholat”. Pelayan berkata : “wahai tuan engkau adalah orang yang mencari barang itu, bukan mencari tuhan”. Dengan ucapan budak itu, budak tersebut di bebaskan oleh tuannya berkat keyakinannya yang kuat.

Memang seharusnya orang yang berakal mau meninggalkan urusan duniawi, kemudian mengabdi kepada Allah dan memikirkan masa depan kelak di akhirat. Allah sudah berfirman dalam Al-Qur’an surat 42 Asy Syuraa ayat 20 yang artinya : 

“barang siapa yang menghendaki tanaman (pahala) akherat, akan kami tambah-tambah pahalanya. Dan barang siapa yang menghendaki tanaman dunia, kamipun akan memberikan kepadanya, tetapi tak ada bagian untuk akherat.”

Maksud tanaman dunia misalnya pakaian atau makanan. Dan tanaman akherat bekalnya ialah menanam rasa cinta di hati mengenai akherat. Dengan dasar ini, Abu Bakar Ash Shidiq pernah shodaqoh kepada nabi saw. 40.000 dirham secara sembunyi-sembunyi, dan 40.000 dirham secara terang-terangan, sehingga hartanya sedikitpun tak tersisa.

Keluarga Nabi Muhammad saw dan nabi saw sendiri adalah orang tidak mencintai kelezatan dan kesenangan dunia. Lihatlah pelaminan tuan putrid Fatimah Az Zahro sewaktu nabi saw menikahkan dia dengan Ali kw. Hanya berasal dari kulit domba yang sudah di samak (dicuci), berikut bantal kulit binatang yang sudah di beri laif (sebangsa serabut akar-akaran).

Sumber : terjemahan kitab Mukasyafatul Qulub

Subscribe to receive free email updates: