Memahami bid’ah dengan benar menurut para ulama

Memahami bid’ah dengan benar menurut para ulama - Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca pernyataan sekelompok orang yang menyatakan kesesatan amalan-amalan ulama salaf seperti tahlilan, maulidan (pembacaan buku sejarah kelahiran nabi Muhammad saw), sholawatan, yasinan dan sebagainya. Bermodalkan kata “BID’AH” dan kalimat “tidak ada tuntunannya”, atau “tidak di contohkan oleh nabi shallallahu alai wa sallam”, mereka telah berani menyatakan muslim yang lain sesat dan memvonisnya sebagai calon penghuni neraka. Diantara mereka bahkan ada yang dengan berani berkata “ jangan ikuti kyai (ulama) kamu akan tersesat. Cukup ikuti Al-Qur’an  dan sunnah, kamu pasti selamat.”


Pemahaman yang salah tentang sunnah dan bid’ah telah menyebabkan mereka terjebak dalam penyesatan, pemusyrikan dan pengkafiran terhadap muslim lain. Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam hal yang sama, maka kita harus memahami makna sunnah dan bid’ah dengan benar, menurut Al-qur’an dan sunnah sesuai dengan penjelasan para ulama salaf, bukan menurut hawa nafsu dan penafsiran akal kita sendiri. Allah ta’ala mewahyukan :


“maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kalian tidak mengetahui.” (QQS. Al-Anbiya 21:7)
Arti BID’ah menurut bahasa
Arti bid’ah secara bahasa menurut para ulama adalah sebagai berikut 
Ar-Raghib Al-Ashfahani : “ penciptaan sesuatuyang baru tanpa adanya contoh sebelumnya.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar : “segala sesuatu yang diadakan tanpa contoh sebelumnya, baik yang bersifat terpuji maupun tercela.
Kamus Al-Munjid :


“bid’ah adalah sesuatu yang diadakan  tanpa adanya contoh terlebih dahulu.”
Arti bid’ah secara istilah agama 
Setelah meneliti dan mempelajari berbagai hadits yang berhubungan dengan permasalahan bid’ah, para ulama asalaf kemudia merumuskan arti bid’ah menurut syariat. Berikut adalah pendapat beberapa ulama slaf terkemuka tentang bid’ah menurut syarit :
Menurut Imam Syafi’I rahimahullah berkata : 


bid’ah terbagi menjadi 2, yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah bid’ah terpuji, sedangkan yang bertentangan dengan sunnah adalah bid’ah tercela.

Dalam kesempatan lain beliau radhiyallahu abhu berkata :


“hal-hal baru (muhdatsah) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan al-quran, sunnah, atsar maupun ijma’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-quran, sunnah, atsar maupun ijma’. Hal baru seperti ini tidaklah tercela.”

Imam nawawi radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

“bid’ah menurut syariat adalah pengadaan suatu yang baru yang tidak ada di masa rasulullah shallallahu alahi wa sallam dan ia terbagi menjadi 2, yaitu bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (buruk). Sang guru dan imam yang di akui keimaman dan kebesarannya serta keahlian dan kemampuannya yang luar biasa dalam menguasai berbagai jenis ilmu, abu Muhammad ibnu abdul aziz bin abdussalam, semoga Allah merahmati dan meridhoinya, dalam bagian akhir kitab Al-Qawaid berkata, ‘dan hal itu dapat di ketahui dengan mengembalikan bid’ah tersebut pada kaidah-kaidah syariat. Jika ia termasuk dalam kaidah-kaidah yang wajib, maka ia bid’ah wajib. Jika masuk dalam kaidah haram, maka ia bid’ah haram. Jika masuk dalam kaidah makruh, maka ia bid’ah makruh. Jika masuk dalam kaidah sunnah, maka ia bid’ah sunnah, jika masuk dalam kaidah mubah, maka ia bid’ah mubah.’”

Imam Ghazali radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

“sesungguhnya bid’ah yang tercela adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah-sunnah yang kuat.adalpun bid’ah yang membantu seseorang untuk berhati-hati dalam beragama, maka ia adalah bid’ah yang terpuji.”

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad radhiyallahu andu berkata yang artinya :

Bid’ah terbagi menjadi 3 macam :
1. Bid’ah hasanah (baik) bermakna semua bid’ah yang menurut aimmatul huda sesuai dengan al-quran dan sunnah. Bid’ah tersebut timbul karena mereka (para imam) mengutamakan yang lebih tepat, lebih bermanfaat dan lebih baik. Contohnya dalah pengumpulan al-quran oleh abu bakar, penulisan diwan dan pelaksanaan sholat tarawih oleh umar, penyusunan mushaf dan adzan pertama di hari jum’at oleh utsman serta hukum memerangi para pemberontak oleh ali, semoga Allah meridhoi beliau dan ketiga khalifah lainnya.

2.Bid’ah madzmumah (tercela) dalam pemahaman zuhud, wara’ dan qana’ah saja. Yang termasuk bid’ah jenis ini adalah berlebihan dalam hal-hal yang mubah seperti berpakaian, makan dan tempat tinggal.

3. Bid’ah madzmumah (tercela) secara mutlak yaitu semua bid’ah yang bertentangan dengan al-quran dan sunnahatau bertentangan dengan kesepakatan umat islam. Bid’ah jenis ini sering terjadi dalam masalah ushul dan jarang terjadi dalam masalah furu’.

Dari penjelasan beberapa ulama salaf terkemuka di atas jelaslah para ulama ahlus sunnah waljamaah sepakat bahwa bid’ah secara garis besar terbagi menjadi 2, yaiut bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah dhalalah (sesat), sedangkan secara terperinci terbagi menjadi 5. Hal ini dapat kita lihat dalam kalimat yang digunakan oleh imam nawawi radhiyallahu anhu dalam syarh sahih muslim ketika menjelaskan pengertin bid’ah. Ucapan beliau tersebut menjadi rujukan para ulama. Imam nawawi radhiyallahu anhu berkata :


“ahli bahasa berkata ‘ bid’ah adalah segala sesuatu yang dikerjakan tanpa adanya contoh terdahulu.’ Para ulama berkata ‘bid’ah terbagi menjadi 5, yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.”

Al-hafidz ibnu rajab radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

yang di maksud dengan bid’ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada dalil yang mendasarinya di dalam syariat. Adapun segala yang baru memiliki dalil  yang bersumber dari syariat, maka ia bukanlah bid’ah yang di maksud , meskipun secara bahasa ia disebut bid’ah.”

Berdasarkan ucapan ibnu rajab di atas jelas bahwa tidak semua bid’ah sesat. Hanya bid’ah yang bertentangan dengan syariat lah yang sesat.

berikut ini adalah beberapa contoh bid'ah hasanah : tahlilan, maulidan (pembacaan buku sejarah kelahiran nabi Muhammad saw), sholawatan, yasinan dan sebagainya.

masihkan anda kurang paham mengenai pengertian bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah ??? silahkan pahami lagi dengan benar artikel di atas. 

Setelah menyiumak beberapa ulama di atas masih ragukah kita bahwa tidak semua bid’ah itu sesat dan hanya bid’ah yang bertentangan dengan al-quran dan sunnah sajalah yang sesat. Akankah kita bersikukuh bahwa semua bid’ah itu sesat ? padahal masih banyak ulama lain yang berpendapat serupa dengan pengertian di atas namun tidak di sebutkan di sini. Jika tidak mendengarkan ucapan sebagian ulama besar, ucapan siapa lagi yang akan kita dengarkan ? sungguh aneh jika ucapan para ulama terkemuka di atas kemudian kita kesampingkan dan kita lupakan begitu saja.

Sumber : Ahlul bid’ah hasanah (jawaban untuk mereka yang mempersoalkan amalan para wali) karangan habib Noval bin Muhammad Alaydrus

Subscribe to receive free email updates: