Rambut Rasulullah SAW dan Cara Bersisir Rasulullah SAW

Rambut Rasulullah SAW dan Cara Bersisir Rasulullah SAW

Rambut Rasulullah SAW

Berusaha untuk mengenali Rasulullah saw mulai dari bentuk tubuhnya sampai ke ahlaknya merupakan sesuatu yang penting bagi kita yang merasa ummat muhammad, kita sebagai ummat muhammad saw yang berharap mendapat syafaat dari beliau tentunya harus memiliki suatu ikata dalam hati kita. 



- Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik ra. Di ungkapkan :


“Rambut Rasulullah saw. mencapai pertengahan kedua telinganya.”
- Aisyah ra. Perbah berkata sebagai berikut :


“aku dan Rasulullah saw mandi dari tempayan yang sama. Beliau memiliki rambut (yang panjangnya) sampai di atas bahu dan di bawah daun telinga.”
- Dalam suatu riwayat al-Barra’ bin ‘Azib mengemukakan sebagai berikut :


“Rasulullah saw adalah seorang yang berbadan sedang, kedua bahunya bidang, sedangkan rambutnya menyentuh kedua daun telinganya.”
- Qatadah pernah bertanya kepada Anas bin Malik ra tentang rambut Rasulullah saw. Anas menjawab :


“rambutnya tidak terlalu keriting, tidak pula lurus kaku. Rambutnya mencapai kedua daun telinganya.”
- Dalam suatu riwayat di kemukakan bahwa Ummul Hani binti Abu Thalib pernah berkata :


“Rasulullah saw tiba di mekkah (pada saat pembebasan kota mekkah). Sedang rambutnya di jalin menjadi empat.”
- Anas ra pernah menceritakan perihal rambut Rasulullah saw sebagai berikut :


“sesungguhnya rambut Rasulullah saw mencapai pertengahan kedua telinganya.”
- Dalam suatu riwayat, Ibnu Abbas ra mengemukakan :


“sesungguhnya Rasulullah saw dulunya menyisir rambutnya ke belakang, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambut mereka ke kiri dan ke kanan, dan ahlul kitab menyisir rambutnya ke belakang. Selama tidak ada perintah lain, Rasulullah saw senang menyesuaikan diri dengan ahlul kitab. Kemudian, Rasulullah saw menyisir rambutnya ke kiri dan ke kanan” 

Cara Bersisir Rasulullah SAW

- Dalam suatu riwayat, Aisyah ra mengemukakan :


“aku pernah menyisir rambut Rasulullah saw padahal aku sedang haidl”
- Dalam suatu riwayat yang bersumber dari Anas bin Malik ra dikemukakan :


“Rasulullah saw sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya, beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.”
- Ummul Mu’minin Aisyah ra mengemukakan :


“sesungguhnya Rasulullah saw menyenangi mulai bersuci dari anggota badannya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai sandal.”
- Adullah bin Mughaffal ra bercerita :


“Rasulullah saw melarang bersisir kecuali sekali-kali.”
- Seorang sahabat nabi (tidak disebut namanya) pernah mengatakan :


“sesungguhnya Rasulullah saw jarang-jarang saja bersisir.”

harus memiliki rasa cinta pada beliau karena beliau telah lama mencintai kita sebagai ummat beliau, bahkan saat sakaratul maut pun yang di khawatirkan bukan keluarga beliau tapi ummatnya. betapa cinta beliau kepada kita, kita sebisa mungkin harus membuat Rasulullah saw bangga kepada kita. semoga dengan keinginan kita untuk mengenal bentuk tubuh dan sifat beliau, nantinya kita akan di pertemukan dengan beliau dan beliau mengakui kita sebagai ummat beliau dan memberikan syafaat kepada kita. SHOLLUALANNABI MUHAMMAD

Sumber : Terjemahan Kitab Asy-Syama-ilul Muhammadiyyah

Read More
Lirik Lagu dan Terjemahan Qosidah Nasim Habbat Alaina

Lirik Lagu dan Terjemahan Qosidah Nasim Habbat Alaina

Lirik Lagu dan Terjemahan Qosidah Nasim Habbat Alaina - bagi kalian yang ingin tau mengenai arti atau terjemahan dari Qosidah Nasim Habbat Alaina silahkan cek di bawah ini. tersedia lengkap dengan teks arabnya, teks bahasa indonesianya dan terjemahannya. pertama kali mendengar lagu Qosidah ini saya liat video di youtube, saya langsung jatuh cinta mendengarkan alunan musiknya dan terlebih lagi jika kita tahu arti atau terjemahan nya dari apa yg kita dengar, di jamin menggugah hati kita.




نسيم هبت علينا من حمی المصطفی
Nasîm habbat ‘alainâ min himâl Mushthofâ
Telah berhembus angin sejuk dari pangkuan Rasulullah saw kearah kami,

نسيم فيها الهناء فيها الدواء والشفاء
Nasîm fîhâl hanâ’ fîhâd-dawâ’ wasy-syifâ’
angin sejuk pada nya terdapat obat dan kesembuhan.

بشمها يصلح الظاهر لنا والخفاء
Bisyamihâ yushlihidh-dhôhir lanâ wal khofâ’
Dengan menghirup nya segala yang zahir dan yang tersembunyi menjadi baik,

يابخت من للنبي فی کل حال إقتفاء
Yâ bakhkhot man linnabiy fî kulli hâl iqtafâ
sungguh beruntung orang-orang yang selalu mengikuti Nabi saw disetiap keadaan nya…

علی قدم صدق مع أهل الهمم والوفاء
‘Alâ qodam shidqin ma’a ahlil himamu wal wafâ’
Di atas pijakan kaki kesetiaan bersama pemilik kesetiaan

هم الرجال الأگابر هم هم الشرفاء
Humur-rijâlil akâbir hum humusy-syurofâ
mereka adalah orang-orang besar, mereka adalah orang-orang mulia.

هم أهل الأسرارهم أهل النقاء والصفاء
Hum ahlil asrôro hum ahlin-naqô’ wash-shofâ’
Mereka adalah pemilik rahasia Illahi mereka adalah pemilik kesucian dan ketulusan.

ياحادي إشجع فحالي بالنبي قد صفاء
Yâ hâdiy isyja’ fahâliy binnabiy qod shofâ
Wahai yang melantunkan nada, lantunkanlah syair-syairmu dengan Rasulullah saw, keadaanku sungguh telah menjadi bersih…

إذا بدت عين جود الله عنا عفی
Idzâ badat ‘aini jûdillâhi ‘annâ ‘afâ
Apabila telah nampak pandangan Kemurahan ALLAH, niscaya Ia akan memaafkan kesalahan kita,

الله حسبی ونعم الحسب حسبي گفی
Allâhu hasbî wa ni’mal hasbî hasbî kafâ
cukuplah ALLAH bagiku dan sebaik-baik Dzat yang mencukupi adalah Dzat yang telah mencukupiku.

منه المواهب ومنه العافية والشفاء
Minhul mawâhib wa minhul ‘âfiyah wasy-syifâ’
Segala pemberian dan segala kesihatan serta kesembuhan berasal dariNYA,

يا واسع الجود ربي خير عافي عفی
Yâ wâsi’al jûdi robbî khoiri ‘âfî ‘afâ
wahai Dzat Yang Maha Luas KemurahanNYA, wahai Tuhanku sebaik-baik Dzat yang telah Memberikan `Afiah…

أمنن علينا برفقة عبدك المصطفی
Umnun ‘alainâ bi rifqota ‘abdikal Mushthofâ
Berikanlah kepada kami kebersamaan bersama hambaMU yang terpilih Rasulullah saw

أسلك بنا نهج من لهديه إقتفی
Usluk binâ nahji man lihadyihi iqtafâ
tuntunlah kami kepada ajaran orang-orang yang telah mengikuti hidayah NabiMU.

نثبت بدوان ورث النبي الخلفاء
Nutsbat bidiwâni wurotsin-nabiyl khulafâ
Kami dapat di tetapkan dalam dewan para pewaris Rasulullah saw, para pengganti-pengganti beliau

بجاه أحمد حبيب الله گنز الوفاء
Bijâhi Ahmad habîbillâhi kanzil wafâ’
dengan pangkat kebesaran Ahmad Kekasih ALLAH gudang segala kesucian…

عليه صلی إلهي ما الحيا وگفاء
‘Alaihi shollâ ilâhî mâl hayâ wa kafâ’
Sholawat Tuhanku keatas nya selama kehidupan berada

والآل والصحب مابرق السماء رفرفا
Wal ãli wash-shohbi mâ barqis-samâ’ rofrofân
dan kepada keluarga serta para sahabat, selama langit bersinar dengan kilat nya dan bergemuruh dengan suara nya…”

jika ingin Download lagu Qosidah Nasim Habbat Alaina silahkan tinggalkan komentar di bawah ini. nanti saya akan beri link download Qosidah Nasim Habbat Alaina mp3 beserta videonya di kolom komentar. menurut saya, lagu dan terjemahannya qosidah nasim habbat alaina ini sungguh sangat menggugah hati saya, entah apa yang saya rasakan ketika mendengar lagu Qosidah nasim habbat alaina ini seakan-akan menambah rasa rindu saya ingin bertemu dengan beliau Rasulallah saw. Qosidah ini bahkan sering saya putar ketika sedang santai.
Read More
Pengertian Lalai dan Kisah Seseorang Tentang Kelalaian Dalam Beribadah

Pengertian Lalai dan Kisah Seseorang Tentang Kelalaian Dalam Beribadah

Pengertian lalaiSifat lalai menambah penyesalan dan menghilangkan kenikmatan, mengurangi jati diri kehambaan, menambah kedengkian. Serta menambah rasa kekecewaan.

Kisah ; ada seorang soleh melihat gurunya dalam mimpi. Ia bertanya pada gurunya: ‘penyesalan apa yang paling besar ?’. gurunya menjawab : ‘menyesal akibat lalai.’

Diriwayatkan, sebagian dari mereka ada yang melihat Dzunnun Al Mishri. Orang itu berkata ‘ bagaimana Allah memperlakukan kamu ?’ Al Mishri menjawab : ‘dia meletakkan aku di hadapannya, kemudian berfirman kepadaku ‘wahai orang yang terdakwa, orang pembohong, engkau mengaku cinta kepadaku, sementara engkau selalu lalai dari-ku. Engkau selalu lalai dan hatimu sangat pelupa, umurmu sudah hilang sementara dosamu tetap seperti semula.’
Imam Syafi'i
Zahri Riyadh
Kitab tersebut menerangkan, malaikat mau dengan nabi Ya’qub as. Hampir seperti saudara. Dan suatu saat malaikat mau mendatangi nabi Ya’qub as. Nabipun bertanya ‘ wahai malaikat maut, engkau datang menjenguk aku atau mau mencabut nyawaku ?’ malaikatpun menjawab ‘aku datang berkunjung.’ Nabi berkata ‘kalau begitu aku minta engkau mau mengabulkan hajatku.’ Malaikat menjawab ‘ maksudnya ?’ nabi berkata : ‘beritahukanlah kepadaku kalau kamu mau mencabut nyawaku.’ Malaikat berkata : ‘Ya, aku akan mengirim 2 atau 3 malaikat utusanku”. Dan suatu saat malaikat maut mendatangi nabi Ya’qub lagi. Nabi ya’qub pun bertanya seperti biasanya ‘engkau datang menjenguk aku atau mau mencabut nyawaku ?’. malaikat maut menjawab : ‘mencabut nyawamu’. Nabipun berkata : ‘bukankah dulu engkau pernah member tahuku akan mengirim 2 atau 3 malaikat utusan !’. malaikat maut membantah : ‘bukankah aku sudah melakukan! Rambutmu yang memutih, lemahnya tubuhmu, dan bungkuknya tubuhmu. Bukankah semuanya sebagai utusan pada seluruh anak cucu adam kalau menjelang ajalnya!’.

“Sudah lewat waktu dan hari. Padahal dosa masih di kerjakan, bahkan datang utusan kematian, namun hati masih saja lalai. Kenikmatanmu di dunia hanya tipuan belaka : bahkan kehidupanmu di dunia hanyalah semu yang tidak bisa di benarkan.”

Abul Ali Addaqooaqi ra berkata : ‘aku pernah memasuki rumah orang saleh yang sakit. Dia termasuk guru besar, dan banyak sekali orang yang berkunjung menjenguk sakitnya.’ Dia menangis dalam umurnya yang tinggal sedikit. Aku bertanya : “kenapa tuan menangis ? apa karena urusan duniawi!.” Dia menjawab : ‘Bukan, tapi karena tertundanya sholatku’. Aku bertanya : “bagaimana bisa terjadi, bukankah engkau orang yang rajin sholat!”. Ia berkata : “hari ini keadaanku tidak bertambah. Aku, tidak sujud, kecuali selalu lalai (tidak khusuk), begitu pula ketika aku mengangkat kepalaku. Dan aku menjelang matipun dalam keadaan lengah”.

Lalu ia meniup debu sambil melantunkan syair sebagai berikut :
“Aku berfikir tentang pertemuanku di hari kiamat kelak, serta menyentuhnya pipiku di kuburan. Seorang diri, padahal sebelumnya ia mulia dan luhur; semua itu diimpaskan dengan dosaku, sementara debu merupakan bantalku. Aku memikirkan betapa lamanya hisab, dan sangat hinanya diriku ketika di beri catatan amal, namun aku hanya punya harapan kepadamu wahai tuhanku yang menciptakan aku; hanya engkaulah tuhanku yang bisa mengampuni kesalahanku.”

Ada hadist bahwa Nabi Muhammad saw bersabda : “Allah sudah menulis di tiangnya, ‘Arsy ‘aku mengabulkan orang yang taat kepadaku, mencintai orang yang mencintaiku, mengabulkan orang yang berdoa kepadaku, dan mengampuni orang yang meminta ampun kepadaku.
Bagi yang bisa berfikir, seharusnya taat kepada Allah, ikhlas dan ridho terhadap keputusannya, sabar akan cobaannya dan bersyukur atas semua nikmatnya. Allah swt berfirman :

“barang siapa yang tidak ridho dengan keputusanku, tidak sabar dengan cobaanku, tidak syukur atas nikmatku, juga tidak menerima pemberianku, maka hendaknya dia mencari tuhan selain aku. ”
Ada seorang lelaki berkata kepada Abu Yazid ra. “aku tidak merasakan sedikir\tpun nikmatnya taat.” Abu yazid menjawab “karena engkau menyembah ketaatan itu, bukan menyembah Allah. Maka sembahlah Allah sampai engkau merasakan nikmatnya taat.”

Kisah seorang yang tidak ingin lalai dalam sholatnya
Kisah, ada seorang lelaki shalat, dan sampai pada lafadz ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Dan yang bergerak dalam hatinya ialah mengabdi kepada Allah. Namun ada gerakan batin yang membantah. “engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi kepada makhluk”. Iapun bertobat dan menjauhkan diri dari manusia. Ia sholat lagi dan sampai pada ayat  “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Adapun yang membantah ‘engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi pada harta. Lalu semua hartanya di sedekahkan. Ia sholat lagi, juga sampai pada ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Ada bantahan lagi, “engkau bohong, sebenarnya engkau mengabdi pada pakaian”. Lantas semua pakaiannya di sedekahkan, hanya tinggal yang di pakai saja. Lalu ia sholat lagi, dan sampai pada ayat “iyyaaka na’budu (kepadamu kami menyembah)”. Barulah ada panggilan, “engkau baru benar sesungguhnya engkau sudah mengabdi kepada Allah.”

Kisah seorang yang lalai dalam sholatnya
Dimana ada kisah seorang lelaki yang kehilangan beberapa barangnya (jawaaliq), ia lupa siapa yang mengambil. Ketika sholat ia ingat siapa yang mengambil, dan setelah salam, ia memerintah pelayannya untuk mengambil barang itu. Pelayan itu bertanya : “kapan kamu ingat tuan ?” jawan tuan : “ketika aku sholat”. Pelayan berkata : “wahai tuan engkau adalah orang yang mencari barang itu, bukan mencari tuhan”. Dengan ucapan budak itu, budak tersebut di bebaskan oleh tuannya berkat keyakinannya yang kuat.

Memang seharusnya orang yang berakal mau meninggalkan urusan duniawi, kemudian mengabdi kepada Allah dan memikirkan masa depan kelak di akhirat. Allah sudah berfirman dalam Al-Qur’an surat 42 Asy Syuraa ayat 20 yang artinya : 

“barang siapa yang menghendaki tanaman (pahala) akherat, akan kami tambah-tambah pahalanya. Dan barang siapa yang menghendaki tanaman dunia, kamipun akan memberikan kepadanya, tetapi tak ada bagian untuk akherat.”

Maksud tanaman dunia misalnya pakaian atau makanan. Dan tanaman akherat bekalnya ialah menanam rasa cinta di hati mengenai akherat. Dengan dasar ini, Abu Bakar Ash Shidiq pernah shodaqoh kepada nabi saw. 40.000 dirham secara sembunyi-sembunyi, dan 40.000 dirham secara terang-terangan, sehingga hartanya sedikitpun tak tersisa.

Keluarga Nabi Muhammad saw dan nabi saw sendiri adalah orang tidak mencintai kelezatan dan kesenangan dunia. Lihatlah pelaminan tuan putrid Fatimah Az Zahro sewaktu nabi saw menikahkan dia dengan Ali kw. Hanya berasal dari kulit domba yang sudah di samak (dicuci), berikut bantal kulit binatang yang sudah di beri laif (sebangsa serabut akar-akaran).

Sumber : terjemahan kitab Mukasyafatul Qulub

Read More
 Memahami bid’ah dengan benar menurut para ulama

Memahami bid’ah dengan benar menurut para ulama

Memahami bid’ah dengan benar menurut para ulama - Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca pernyataan sekelompok orang yang menyatakan kesesatan amalan-amalan ulama salaf seperti tahlilan, maulidan (pembacaan buku sejarah kelahiran nabi Muhammad saw), sholawatan, yasinan dan sebagainya. Bermodalkan kata “BID’AH” dan kalimat “tidak ada tuntunannya”, atau “tidak di contohkan oleh nabi shallallahu alai wa sallam”, mereka telah berani menyatakan muslim yang lain sesat dan memvonisnya sebagai calon penghuni neraka. Diantara mereka bahkan ada yang dengan berani berkata “ jangan ikuti kyai (ulama) kamu akan tersesat. Cukup ikuti Al-Qur’an  dan sunnah, kamu pasti selamat.”


Pemahaman yang salah tentang sunnah dan bid’ah telah menyebabkan mereka terjebak dalam penyesatan, pemusyrikan dan pengkafiran terhadap muslim lain. Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak dalam hal yang sama, maka kita harus memahami makna sunnah dan bid’ah dengan benar, menurut Al-qur’an dan sunnah sesuai dengan penjelasan para ulama salaf, bukan menurut hawa nafsu dan penafsiran akal kita sendiri. Allah ta’ala mewahyukan :


“maka bertanyalah kalian kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu), jika kalian tidak mengetahui.” (QQS. Al-Anbiya 21:7)
Arti BID’ah menurut bahasa
Arti bid’ah secara bahasa menurut para ulama adalah sebagai berikut 
Ar-Raghib Al-Ashfahani : “ penciptaan sesuatuyang baru tanpa adanya contoh sebelumnya.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar : “segala sesuatu yang diadakan tanpa contoh sebelumnya, baik yang bersifat terpuji maupun tercela.
Kamus Al-Munjid :


“bid’ah adalah sesuatu yang diadakan  tanpa adanya contoh terlebih dahulu.”
Arti bid’ah secara istilah agama 
Setelah meneliti dan mempelajari berbagai hadits yang berhubungan dengan permasalahan bid’ah, para ulama asalaf kemudia merumuskan arti bid’ah menurut syariat. Berikut adalah pendapat beberapa ulama slaf terkemuka tentang bid’ah menurut syarit :
Menurut Imam Syafi’I rahimahullah berkata : 


bid’ah terbagi menjadi 2, yaitu bid’ah mahmudah (yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (yang tercela). Bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah bid’ah terpuji, sedangkan yang bertentangan dengan sunnah adalah bid’ah tercela.

Dalam kesempatan lain beliau radhiyallahu abhu berkata :


“hal-hal baru (muhdatsah) itu ada dua. Pertama, hal baru yang bertentangan dengan al-quran, sunnah, atsar maupun ijma’. Inilah bid’ah yang sesat. Kedua, segala hal baru yang baik dan tidak bertentangan dengan al-quran, sunnah, atsar maupun ijma’. Hal baru seperti ini tidaklah tercela.”

Imam nawawi radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

“bid’ah menurut syariat adalah pengadaan suatu yang baru yang tidak ada di masa rasulullah shallallahu alahi wa sallam dan ia terbagi menjadi 2, yaitu bid’ah hasanah (baik) dan qabihah (buruk). Sang guru dan imam yang di akui keimaman dan kebesarannya serta keahlian dan kemampuannya yang luar biasa dalam menguasai berbagai jenis ilmu, abu Muhammad ibnu abdul aziz bin abdussalam, semoga Allah merahmati dan meridhoinya, dalam bagian akhir kitab Al-Qawaid berkata, ‘dan hal itu dapat di ketahui dengan mengembalikan bid’ah tersebut pada kaidah-kaidah syariat. Jika ia termasuk dalam kaidah-kaidah yang wajib, maka ia bid’ah wajib. Jika masuk dalam kaidah haram, maka ia bid’ah haram. Jika masuk dalam kaidah makruh, maka ia bid’ah makruh. Jika masuk dalam kaidah sunnah, maka ia bid’ah sunnah, jika masuk dalam kaidah mubah, maka ia bid’ah mubah.’”

Imam Ghazali radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

“sesungguhnya bid’ah yang tercela adalah bid’ah yang bertentangan dengan sunnah-sunnah yang kuat.adalpun bid’ah yang membantu seseorang untuk berhati-hati dalam beragama, maka ia adalah bid’ah yang terpuji.”

Sayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad radhiyallahu andu berkata yang artinya :

Bid’ah terbagi menjadi 3 macam :
1. Bid’ah hasanah (baik) bermakna semua bid’ah yang menurut aimmatul huda sesuai dengan al-quran dan sunnah. Bid’ah tersebut timbul karena mereka (para imam) mengutamakan yang lebih tepat, lebih bermanfaat dan lebih baik. Contohnya dalah pengumpulan al-quran oleh abu bakar, penulisan diwan dan pelaksanaan sholat tarawih oleh umar, penyusunan mushaf dan adzan pertama di hari jum’at oleh utsman serta hukum memerangi para pemberontak oleh ali, semoga Allah meridhoi beliau dan ketiga khalifah lainnya.

2.Bid’ah madzmumah (tercela) dalam pemahaman zuhud, wara’ dan qana’ah saja. Yang termasuk bid’ah jenis ini adalah berlebihan dalam hal-hal yang mubah seperti berpakaian, makan dan tempat tinggal.

3. Bid’ah madzmumah (tercela) secara mutlak yaitu semua bid’ah yang bertentangan dengan al-quran dan sunnahatau bertentangan dengan kesepakatan umat islam. Bid’ah jenis ini sering terjadi dalam masalah ushul dan jarang terjadi dalam masalah furu’.

Dari penjelasan beberapa ulama salaf terkemuka di atas jelaslah para ulama ahlus sunnah waljamaah sepakat bahwa bid’ah secara garis besar terbagi menjadi 2, yaiut bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah dhalalah (sesat), sedangkan secara terperinci terbagi menjadi 5. Hal ini dapat kita lihat dalam kalimat yang digunakan oleh imam nawawi radhiyallahu anhu dalam syarh sahih muslim ketika menjelaskan pengertin bid’ah. Ucapan beliau tersebut menjadi rujukan para ulama. Imam nawawi radhiyallahu anhu berkata :


“ahli bahasa berkata ‘ bid’ah adalah segala sesuatu yang dikerjakan tanpa adanya contoh terdahulu.’ Para ulama berkata ‘bid’ah terbagi menjadi 5, yaitu wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.”

Al-hafidz ibnu rajab radhiyallahu anhu berkata yang artinya :

yang di maksud dengan bid’ah adalah segala sesuatu yang baru yang tidak ada dalil yang mendasarinya di dalam syariat. Adapun segala yang baru memiliki dalil  yang bersumber dari syariat, maka ia bukanlah bid’ah yang di maksud , meskipun secara bahasa ia disebut bid’ah.”

Berdasarkan ucapan ibnu rajab di atas jelas bahwa tidak semua bid’ah sesat. Hanya bid’ah yang bertentangan dengan syariat lah yang sesat.

berikut ini adalah beberapa contoh bid'ah hasanah : tahlilan, maulidan (pembacaan buku sejarah kelahiran nabi Muhammad saw), sholawatan, yasinan dan sebagainya.

masihkan anda kurang paham mengenai pengertian bid'ah hasanah dan bid'ah dholalah ??? silahkan pahami lagi dengan benar artikel di atas. 

Setelah menyiumak beberapa ulama di atas masih ragukah kita bahwa tidak semua bid’ah itu sesat dan hanya bid’ah yang bertentangan dengan al-quran dan sunnah sajalah yang sesat. Akankah kita bersikukuh bahwa semua bid’ah itu sesat ? padahal masih banyak ulama lain yang berpendapat serupa dengan pengertian di atas namun tidak di sebutkan di sini. Jika tidak mendengarkan ucapan sebagian ulama besar, ucapan siapa lagi yang akan kita dengarkan ? sungguh aneh jika ucapan para ulama terkemuka di atas kemudian kita kesampingkan dan kita lupakan begitu saja.

Sumber : Ahlul bid’ah hasanah (jawaban untuk mereka yang mempersoalkan amalan para wali) karangan habib Noval bin Muhammad Alaydrus
Read More
Orang-orang yang sombong dan pembagiannya

Orang-orang yang sombong dan pembagiannya

Orang-orang yang sombong dan pembagiannya - Perlu di ketahui bahwa Allah swt menciptakan manusia sebagai mahluk yang suka berbuat zalim dan bodoh. Adakalanya manusia menyombongkan dirinya di hadapan orang lain, bahkan ada kalanya manusia menyombongkan dirinya terhadap Allah swt, semua sifat itu termasuk sifat sombong. Adapaun pembagian nya sifat sombong ada 3 :


1. Menyombongkan diri kepada Allah swt. Itulah kesombongan yang paling besar nilainya. Seorang tidak akan menyombongkan dirinya kepada Allah swt kecuali orang yang bodoh dan suka berbuat sewenang-wenang.

Hal ini seperti yang di lakukan oleh raja Namrud ketika ia bermaksud memerangi tuhan yang di langit. Demikian pula seperrti yang di lakukan oleh fir’aun ketika ia berkata : ‘aku adalah tuhan kalian yang maha tinggi’. Orang-orang yang menyombongkan dirinaya semacam itu tidak mengakui sebagai hamba Allah swt. Hal ini sebagaimana yang di sebutkan dalam firman Allah swt 


 “Al-masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba Allah swt dan tidak pula enggan malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah swt)” (QS an-nisa’ ayat 172)

Selain itu, Allah swt juga berfirman :


“dan apabila dikatakan kepada mereka ‘sujudlah engkau sekalian kepada yang maha penyayang.apakah kami akan sujud kepada tuhan yang engkau perintahkan kami (bersujud kepadanya)?’ dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman). ” (QS al-furqaan ayat 60)

2. Seorang yang menyombongkan dirinya terhadap Rasul-rasul Allah swt. Sehingga ia tidak mau tunduk  kepada seorang rasaul meskipun ia telah di beri tahu tentang mekjizatnya masing-masing.

Orang-orang semacam itu adakalanya tidak mau memikirkan dan tidak mau memandang dengan mata hatinya, tetapi ada pula yang mengetahui kebenaran para rasul tetapi nafsunya tidak mau tunduk kepada para rasul. 


“(orang) ini tidak lain hanyalah manusia sepertimu, ia makan dari apa yang engkau makan dan meminum dari apa yang engkau minum.dan sesungguhnya jika engkau sekalian mentaati manusia yang sepertimu, niscaya apabila demikian, maka engkau benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.” (QA al-mu’minuun ayat 33-34)

Diantara mereka ada yang menentang para rasul karena sikap kesombongannya, padahal mereka mengetahui kejujuran pribadi baginda Rasulullah saw, tetapi kesombongan mereka tidak mengakui kerasulannya. Hal ini sebagaimana yang di sebutkan da;am firman Allah swt 


“ maka setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya.” (QS al-baqarah ayat 89).

Selain itu Allah swt juga berfirman :


“dan mereka mengingkarinya karena  kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran) nya.” (QS an-naml ayat 14)

Sifat orang yang sombong kepada para rasul, maka mereka termasuk orang-orang yng menyobongkan diri kepada Allah swt, karena orang-orang seperti itu tidak mau tunduk kepada perintah Allah swt dan tidakmau merendahkan diri kepada para rasul.

3. Adapula seorang yang menyombongkan dirinya kepada orang lain, sehingga ia tidak mau tunduk kepada pendapat orang itu dan mereka meremehkan orang itu serendah-rendahnya. Meskipun perasaan sombongnya tidak sama dengan perasaan sombong yang pertama dan yang kedua, tetapi sifat sombong semacam ini mempunyai 2 wajah :

a. Sesungguhnya kesombongan tidak pantas dimiliki seorang kecuali ia seorang penguasa. Adapun jika ia seorang budak, maka sama sekali ia tidak pantas untuk menyombongkan dirinya. Jika ia menyobongkan dirinya, maka ia telah mengambil atau merampas salah satu kebesaran Allah swt, meskipun kesombongan nya berbeda dengan kesombongan raja namrud dan fir’aun.
Allah swt berfirman :


“dan orang-orang yang kair berkata : ‘janganlah engkau mendengar dengan sungguh-sungguh akan al-qur’an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, agar engkau dapat mengalahkan mereka.” (QS fushshilat ayat 26)

b. Orang yang sombong bukanlah orang yang menolak kebenaran, tetapi ia tidak mau menerima nasehat orang lain. Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah swt 



“dan apabila di katakana kepadanya : ‘bertakwalah kepada Allah swt’ bangkitlah kesombongan yang menyebabkannya berbuat dosa.” (QS al-baqarah ayat 206)

Ibnu mas’ud ra berkata : ‘seorang cukup menjadi sombong jika ada orang lain yang menyuruhnya bertakwa kepada Allah swt, kemudian ia menolaknya.’

Baginda Rasulullah saw pernah menyuruh seorang untuk makan dengan tangan kanannya, kata orang itu : ‘aku tidak dapat.’ Baginda nabi Muhammad saw bertanya : ‘ benarkah engkau tidak dapat makan dengan tangan kananmu ? sebenarnya engkau tidak mau melakukan perintahkukarena engkau sombong.’ Maka dengan izin Allah swt tangan orang itu tidak dapat di angkat. (HR muslim hadistnomer 2021). 

Jadi sebagai kesimpulannya, jika ada seorang yang menyombongkan dirinya kepada orang lainmaka ia termasuk menyombongkan dirinya terhadap Allah swt.

Ketika iblis di perintah untuk sujud kepada nabi Allah adam as, ia menolak perintah Allah swt tersebut dan mengatakan : ‘ aku adalah lebih baik dari adam’. Iblis mengatakan seperti itu karena ia mempunyai rasa sombong dan hasud pada nabi Adam as. Karena itu, ia akan binasa untuk selama-lamanya.

Pokoknya, setiap orang yang merasa bahwa dirinya lebih baik dari saudaranya atau ia menolak kebenaran dari orang lain, maka ia termasuk orang yang sombong.  Demikian pula jika seorang tidak mau tunduk kepada Allah swt dan kepada Rasulnya, maka ia termasuk orang yang paling sombong terhadap Allah swt dan Rasulnya.

Sumber : buku karangan habib umar bin hafidz dengan judul apakah yang engkau sombongkan wahai manusia.
Read More
Waspadalah terhadap kedengkian atau hasad

Waspadalah terhadap kedengkian atau hasad

Waspadalah terhadap kedengkian atau hasad, sebab sungguh ia adalah teman yang buruk. Kedengkian yang telah menghancurkan rumah iblis, yang menghancurkan dirinya, yang menjadikan dirinya sebagai salah satu penghuni neraka, dan yang telah menyebabkan dia di kutuk oleh tuhan yang maha kuasa serta oleh para malaikat, nabi-nabi dan semua mahluknya. 


Bagaimana orang yang bertakal sehat bisa memendam rasa dengki , padahal dia telah mendengar firman Allah swt :


“kami telah membagi-bagikan diantara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia ini.” (QS 43:32)


“ataukah mereka dengki kepada manusia dikarenakan apa yang telah di limpahkan kepada Allah kepada mereka dari karunianya ? (QS 4:54)

Tentu dia juga telah mendengar ucapan nabi saw :

“kedengkian memakan pahala kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar.”
Wahai anak muda ! seperti yang di katakana oleh para ulama yang berilmu : “Demi Allah, sekali seorang telah di rasuki oleh kedengkian, niscaya dia akan melangkah jauh dengan membunuh sahabatnya.” Marilah kita berlindung kepada Allah yang maha kuasa dan maha agung dari orang-orang yang di rasuki rasa dengki, sebab dia selalu terlibat dalam perselisihan dengannya, tentang karyanya, tentang mahluk-mahluknya, dan tentang pemberian rezekinya.

Aku berbicara kepada kalian sebagai orang yang tidak tertarik pada apa yang kalian miliki di rumah-rumah kalian, pada barang-barang kalian, pada harta benda dan hadiah-hadiah kalian. Selama aku bersikap seperti ini, kalian akan memperoleh manfaat dari kata-kataku, insya Allah ta’ala. Selama si pembicara melihat kepada sorban-sorban kalian, jubah-jubah kalian, dan kantong-kantong kalian, kalian tidak akan memperolah manfaat dari apa yang di katakannya. Selama dia memandang asap kalian (yakni penampilan lahiriyah kalian) dan memendam harapan-harapan dari kalian dengan rakus, maka kalian tidak akan memperoleh manfaat dari apa yang di katakannya. Pembicaraan akan merupakan cangkang kosong tanpa isi di dalamnya, tulang tanpa daging yang melekat padanya, pil pahit tanpa sesuatu yang memaniskannya, suatu bentuk luar tanpa isi yang terkandung di dalamnya. Pembicaraan orang yang rakus dan berambisi tidaklah bebas dari kekacauan dan penyelubungan. Dia tidak mampu menyuguhkan kebenaran. Pembicaraannya hanyalah kalimat-kalimat tanpa kandungan isi. Orang yang berambisi rakus (tamak) adalah kosong seperti ambisi itu sendiri.

Wahai hamba-hamba Allah, kalian harus mengucapkan kebenaran, sebab hanya dengan itu kalian akan mendapatkan keberhasilan. Orang yang jujur (shadiq) akan selalu menepati kata-katanya seseorang yang jujur dalam mengukuhkan tauhid kepada Allah tidak akan tunduk kepada nafs-nya, diri rendahnya, dengan kata lain, setannya, dan mengatakan apa yang di suruh oleh setannya itu. Orang yang jujur tidak akan mendengarkan ocehan-ocehan yang tolol, yang tidak dapat menemukan jalan ke telinganya. Jika seseorang berkata benar ketika dia mengaku mencintai Allah swt dan rasulnya dan orang-orang saleh di antara hamba-hambanya, maka dia tidak akan berbicara seperti orang munafik yang menjijikkan dan tak berdaya. Orang yang jujur selalu sadar (tentang apa yang benar dan yang palsu), sementara seorang pendusta tidak mengetahui perbedaan tersebut. aspirasi seorang yang benar menjulang tinggi ke langit. Dia tidak di pengaruhi secara buruk oleh apapun yang di katakan oleh siapapun. Allah yang maha kuasa dan maha agung mengendalikan urusan-urusannya. Jika dia menghendakimu untuk suatu urusan, dia akan membuatmu siap untuk itu.


Sumber : peringatan dari sang syech agung : menangkis bisikan jahat
Read More
Kumpulan Hadits Bukhari Tentang Iman Bagian 2

Kumpulan Hadits Bukhari Tentang Iman Bagian 2

Kumpulan Hadits Bukhari Tentang Iman - Ini merupakan kelanjutan dari kumpulan hadis shahih tentang iman sebelumnya. Jika belom baca yang pertama silahkan cek disini. Dari sekian banyak nya hadis tentang iman, saya akan membagikan hanya beberapa saja, menurut yang ada di buku Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Ada sekitar 38 bab dalam kategori pembahasan hadis tentang iman. silahkan bookmark web ini untuk lebih enaknya, atau silahkan subscribe email untuk mendapatkan update artikel dari blog ini.



Bab 11 Sabda Nabi Muhammad Saw. “ aku mengenal Allah Azza Wa Jalla lebih baik dibandingkan kalian semua”.
   

20. diriwayatkan dari Aisyah ra : kapanpun Rasulullah saw. Memerintahkan kaum muslimin untuk mengerjakan sesuatu, ia akan memberikan perintah yang tidak akan memberatkan (sesuai dengan kekuatan dan daya tahan mereka). Mereka berkata : Ya Rasulullah, kami tidak seperti anda . Allah telah memaafkan kesalahan masa lampau dan kesalahan masa depan anda. Mendengar perkataan itu Rasulullah saw sangat marah sehingga kemarahannya itu tampak di wajahnya yang mulia. Kemudia nabi Muhammad saw bersabda : Aku lebih takut kepada----- dan lebih mengetahui tentang ----- Allah Azza Wa Jalla daripada kalian semua.

Bab 12 tinggi-rendahnya keimanan seseorang bergantung pada perbuatan baiknya.

21. diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ra : nabi Muhammad saw pernah bersabda, ketika ahli (penghuni) surge akan memasuki surge dan ahli neraka akan memasuki neraka, Allah swt akan memerintahkan mereka yang memiliki iman meskipun yang berat timbangannya sama dengan sebiji sawi agar dikeluarkan dari neraka. Begitulah mereka akan dikeluarkan dari neraka sedangkan tubuh mereka telah menjadi hitam kelam. Setelah itu mereka akan di tempatkan di sungaai haya atau hayat (perawi hadis ini ragu mana di antara 2 kata itu yang benar), dan mereka akan di hidupkan kembali seperti sebutir pada yang tumbuh di pinggir sungai. Tidakkah engkau melihat butir pada itu tumbuh menguning.

22. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri ra : Rasulullah saw pernah bersabda, ketika aku sedang tidur (di dalam mimpi) aku melihat orang-orang berpakaian di hadapanku, sebagian dari mereka menutup tubuhnya hingga dadanya, sementara yang lainnya berpakaian yang lebih pendek dari itu. Dan Umar bin Khattab di perlihatkan padaku memakai pakaian yang panjang. Sahabat-sahabatnya bertanya : bagaimana anda menafsirkannya ya rasulullah ? (atau apakah tafsir mimpi itu ?) beliau menjawab : Itu adalah agama.

Bab 13 Al-haya’ (rasa malu) adalah bagian dari iman


23. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra : sekali waktu Rasulullah saw bertemu dengan seorang anshar (laki-laki) yang sedang menegur saudara laki-laki nya karena dia sangat pemalu. Saat itu juga Rasulullah saw juga bersabda : biarkanlah dia karena malu adalah bagian dari iman. (mengenai pengertian al-haya’, lihat hadis no 9)

Bab 14 Firman Allah Azza Wa Jalla : tetapi jika mereka bertobat, mendirikan sholat dan membayar zakat, berilah mereka kebebasan (QS At-Taubah ayat 5)


24. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra : Rasulullah Saw pernah bersabda “ aku diperintahkan Allah swt untuk memerangi orang-orang (kafir) sampai mereka bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah, lalu mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat, demikian apabila mereka menjalankan perintah tersebut, maka jiwa dan harta benda mereka akan di lindungi, kecuali (yang diambil) untuk kepentingan islam maka Allah lah yang akan memberikan perhitungannya.

Bab 15 Iman adalah perbuatan (baik) 



25. diriwayatkan Abu Hurairah ra : Rasulullah saw pernah ditanya “ apakah perbuatan yang paling baik itu ?” nabi saw menjawab “beriman kepada Allah dan Rasulnya” nabi saw di Tanya lagi “kemudia apa ?” beliau menjawab “jihad di jalan Allah” nabi saw di Tanya lagi “kemudian apa ?” beliau menjawab “haji mabrur (haji yang diterima Allah dan ditujukan semata-mata untuk mencari kerelaan Allah, tidak dimaksudkan untuk pamer kekayaan dan tidak melakukan perbuatan dosa (selama melaksanakan ibadah haji, dan dilaksanakan sesuai dengan sunnah Nabi saw)

Bab 16 Jika seseorang tidak bersungguh-sungguh memeluk islam, tetapi karena terpaksa takut terbunuh, dan penyebab lainnya.

26. Diriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waq-qash ra : Rasulullah membagikan sesuatu kepada sekelompok orang yang sedang duduk di suatu tempat dengan mengecualikan seseorang yang menurutku paling baik diantara mereka. Aku bertanya : Ya Rasulullah mengapa anda mengecualikan orang itu ? Demi Allah, aku menggapnya sebagai seorang yang beriman, nabi Muhammad member komentar atau seorang muslim belaka. Aku terdiam sesaat, tetapi aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak mengulangi pertanyaan ku dengan alasan aku mengenal orang itu. Lalu aku bertanya kembali kepada Rasulullah  “ apa maksud anda mengecualikan dia, ya Rasulullah ? Demi Allah aku menganggap nya sebagai seorang yang beriman. Nabi saw menjawab dengan hal yang sama “atau seorang muslim belaka”. Maka aku pun terdiam sesaat, tetapi aku tidak dapat menahan diriku untuk tidak mengulangi pertanyaanku dengan alasan yang sama. Dan nabi saw pun mengulangi kembali jawabannya. Kemudia nabi saw bersabda “ Ya Sa’ad, aku memberi kepada seseorang, padahal yang lainnya lebih ku sayangngi, karena rasa takut Allah akan melemparkan dia kedalam api neraka.

Bab 17 Tidak berterima Kasih Terhadap Suami. Dan perbedaan Tingkat Kekafiran.



27. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra : nabi Muhammad Saw pernah bersabda : “neraka di perlihatkan kepada ku dan sebagian besar penghuninya adalah perempuan kafir”. Ada seseorang yang bertanya “pakah mereka kafir terhadap Allah ( atau apakah mereka tidak bersyukur kepada Allah) ?” nabi saw menjawab “mereka kafir (tidak berterima kasih) terhadap suaminya, dan perbuatan baik yang di lakukan suaminya. Seandainya selama masa tertentu kalian selalu berbuat baik (melakukan tindakan yang penuh kebaikan) kepada salah seorang dari mereka dan kemudian ia melihat sesuatu dalam dirimu (yang tidak disukainya), ia akan berkata “kau sama sekali tidak pernah berbuat baik kepadaku”.

Bab 18 Dosa-Dosa adalah perbuatan jahiliyah dan seorang pendosa tidak disebut kafir kecuali mempersekutukan Allah



28. Diriwayatkan dari Abu Dzar ra : aku mencerca seseorang dengan memanggil nama ibunya dengan sapaan yang buruk. Nabi Muhammad saw bersabda kepadaku “ya Abu dzar, apakah kamu mencaci-maki seseorang dengan menyeru ibunya dengan sapaan yang buruk ? dalam dirimu masih tertinggal sifat-sifat jahiliyah. Pembantu-pembantumu (budak-budakmu) adalah juga saudara-saudaramu (seiman) dan Allah menempatkan mereka di bawah perintahmu. Jadi siapapun yang saudaranya di bawah perintahnya harus diberi makanan yang sama dengan yang ia makan dan diberi pakaian yang sama dengan yang ia pakai. Jangan suruh mereka mengerjakan pekerjaan di luar kemampuannya dan apabila kamu terpaksa melakukan nya, bantulah mereka.

Bab 19 Firman Allah Azza Wa Jalla : dan jika dua golongan orang beriman bertikai, damaikanlah mereka ……. (QS Al-Hujurat ayat 9)



29. Diriwayatkan dari Abu Bakrah ra : aku telah mendengar Rasulullah bersabda “ apabila orang muslim bertikai satu sama lain dengan menggunakan pedang mereka, yang membunuh dan yang terbunuh dalam pertikaian itu akan masuk neraka.” Aku berkata “Ya Rasulullah Neraka layak untuk si pebunuh tetapi mengapa yang terbunuhpun masuk neraka?” Rasulullah menjawab “ sebab di dalam hatinya ia punya niat membunuh musuhnya”
Bab 20 Zhulm (kezaliman) yang lebih besar



30. Driwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ra : pada saat ayat ini di wahyukan : mereka yang beriman (terhadap Allah yang esa dan tidak mempersekutukan dia dengan sesuatupun), dan tidak mencampur aduk keimanan nya dengan zhulm (kemusrikan), bagi merekalah keamanan dan mereka memperoleh bimbingan (QS Al-An’am ayat 82), sahabat-sahabat Rasulullah bertanya “siapak diantara kami yang tidak berbuat zalim ?” kemudia turun wahyu Allah swt berikut ini : sungguh mempersekutukan Allah adalah dosa yang besar (QS Al-Lukman ayat 13)

Cukup sekian dulu artikel Kumpulan Hadits Bukhari Tentang Iman bagian 2 nanti aka nada bagian 3 nya, silahkan bookmark web ini biar tidak lupa, karena artikelnya di ambil langsung dari buku hadis shahih bukhari.
Read More